Pernah denger 'Jas Merah'? Masih ingat quotenya siapa? Kalau masih, bagus! Bagi yang belum tau atau lupa, yuk inget-inget lagi bersama. 'Jas merah' singkatan dari Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Salah satu perkataan Soekarno yang terkenal. Dan menariknya ia mengucapkannya di pidato 17-an terkahirnya di Istana Merdeka. Dibalik simpang-siurnya makna di balik kata-kata itu, kalau kita melihat keadaan Indonesia sekarang, itu terlihat seperti 'kutukan'. Percaya tidak percaya, dibandingkan hidup di jaman sekarang, orang lebih cenderung memlih hidup di jaman dulu. Entah mereka pernah hidup di jaman dulu atau apapun itu dapat menggambarkan betapa bobroknya Indonesia yang sekarang sehingga masyarakatnya merindukan Indonesia yang dulu.
Terlepas dari konspirasi dibalik Orla maupun Orba, kedua masa itu mempunyai jejak rekam yang sangat baik di mata rakyat Indonesia. Soekarno dengan kharismanya dan Soeharto dengan perencanaan-perencanaannya. Wajar kalau Indonesia sempat menjadi macan Asia. Ditakuti dan disegani. Bahkan tetangga sebelah pun tak berkutik. Tapi dengan kondisi Indonesia yang sekarang, tetangga lebih mudah menjatuhkan. Indonesia tak jadi macan lagi. Kalau sudah kalah debat ujung-ujungnya mengungkit-ungkit lagi sejarah. Bahkan sampai zaman Sriwijaya&Majapahit.
Terkadang malu sendiri kalau sudah kalah debat, mengata-ngatai negara sebelah lagi. Doesn't mean pro sana, tapi ngaca dulu. Kita sudah benar atau belum? Kita siapa? Indonesia secara keseluruhan. Baik pemerintah, rakyat, dll. Apakah kita sudah pantas mencemooh orang lain, sedangkan dengan keadaan kita sekarang ini kita lebih mudah untuk dicemooh. Salah satu 'cemoohan' implisit yang didapatkan Indoneisa, banyak warga negara lebih memilih sekolah, dan bekerja di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Mereka pintar, mereka ahli, kenapa mereka lebih memilih membangun negara orang ketimbang negara sendiri. Pemerintah seakan tidak memberi lahaan untuk mereka. Iya, mereka hanya memikirkan perutnya sendiri.
Kenapa harus takut mengugkapkan kalau itu adalah sebuah fakta. Mendekati masa-masa pemilu mulai banyak caleg yang berkampanye. Janji mereka dari 5 tahun ke 5 tahun berikutnya nggakganti-ganti kok, "Menyejahterakan rakyat". Mereka tidak salah. Hanya kita yang kurang cermat dan terbodohi. 'Rakyat' spesifikasinya tidak jelas, saudara mereka juga rakyat. Jadi jatuhnya menyejahterakan saudaranya sendiri. Tidak salah. Kemudian, "Menurunkan tingkat kemiskinan". Sama, kita kurang cermat. Siapa yang mau diturunkan garis kemiskinannya? Abstrak. Bisa jadi keluarganya. Selain kurang cermat, terkadang warga Indonesia bodoh. Bodoh, mereka memilih hanya sekerad "Bapak itu ngasih uang lebi banyak", "Ibu itu beliin baju sekolah buat anakku", dan bla bla. Mereka memilih bukan karena kopetensinya, kemampuan memimpin, tapi apa yang bisa ia kasih di awal kampanyanye. Tapi akhirnya merengek-rengek di akhir meminta sang caleg idaman diturunkan. Titik lengahnya adalah para caleg tidak di perkenalkan secara mendetail. Latar belakan politiknya, prestasi-prestasinya, kelebihannya, kekurangannya. Itu semua membuat mereka mudah terkecoh dan salah pilih. Siklusnya dapat disimpulkan, kampanye --> terpilih --> cari uang agar balik modal(dengan berbagai cara) --> meyejahterakan rakyat(saudaranya tepatnya) --> masa jabatan habis --> kampanye lagi. Dan tentu saja terbodohi lagi.Korupsi lagi.
Untuk masalah korupsi Indonesia mungkin sudah ada sejak jama Belanda hingga sekarang. Tidak adanya menanganan cepat pada masa itu membuat korupsi sudah mendarah-daging dan mengakar kuat di Indonesia. Hadirnya KPK sebagai alat pemberantas Korupsi pun sudah terbilang terlambat. Sudah terlambat dihambat pula. Di keterlambatannya, KPK sempat membuka asa untuk pemberantasan korupsi di Indonesia. Tapi sayangnya dewasa ini korupsi sudah tertanam lebih dalam lagi. Tidak hanya tingkat pemerintah nasional. RT/RW pun sudah mulai terkena. Sangatlah miris. Buruknya lagi tidak ada upaya dari diri sendiri untuk mengentikannya. Para koruptor ditangkap polisi hanya senyum-senyum saja. Betapa santainya mereka. Seharusnya banyk petanyaan yang keluar terhadap seyum itu.
Pada akhrinya bagaimana kita bisa percaya pada jaman ini jika bentuknya saja tidak karuan. Butuh tenaga ekstra keras untuk merubah ini semua. Kita mulai mendidik golongan muda yang pada saat meajdi golongan tua semangatnya membenahi Indonesia tidak menua. Rasa nasionalisme murni harus benar-benar ditanamkan utnuk mencabut akar kebobrokan Indonesia yang dalam itu.jangan sekali-kai meninggalkan sejarah, tapi stop mengeluk-elukan jaman dulu. Yang kita tatap masa depan. Pilihannya tinggal 2, masa depan cemerlang atau suram. Kalau bukan kita yang bertindak siapa lagi? Apa perlu kita menuggu Indonesia dijajah kembali atau dijatuhi bom atom sehinggi kita harus memulai dari awal dengan baik? Tidak kan? Mari sadar para generasi muda. Nasib Indonesia ada di tangan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar